Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Hidayatullah di tiga propinsi Sulawesi mengadakan pertemuan di Kendari kemarin, Senin (2/12/2019). Pertemuan tersebut dihadiri langsung oleh Ustadz Tasyrif Amin, M.Pd Kepala Bidang Tarbiyah dan Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah.
Ketiga pengurus wilayah tersebut adalah DPW Hidayatullah Sulawesi Selatan, DPW Hidayatullah Sulawesi Barat, dan DPW Hidayatullah Sulawesi Tenggara.
"Kita sepakat disingkat dengan Sultanbatara," jelas Ustadz Sumariadi.
Menurut Sekretaris DPW Hidayatullah Sulsel tersebut, salah satu keputusan penting dalam rapat lintas DPW tersebut adalah mendirikan lembaga pendidikan dai dan murabbi.
Harapannya, lanjut ustadz Sumariadi, dari lembaga tersebut lahir dai dan murabbi yang kompeten dan militan dalam menjawab tuntutan dakwah dan tarbiyah saat ini.
Lembaga pendidikan dai tersebut, sebut Ustadz Sumariadi, lahir dari keprihatinan atas tuntutan realitas umat Islam akan pembinaan, pencerahan, dan bimbingan langsung.
"Khususnya di Kawasan Timur Indonesia," tambahnya.
Dalam sambutannya terkait pendirian lembaga pendidikan dai itu, Ustadz Mardhatillah menegaskan posisi Hidayatullah yang memilih dakwah dan tarbiyah sebagai mainstream gerakannya. Bahwa, ini harus disikapi secara konsisten dan sungguh-sungguh.
"Karena dengan mainstream inilah Hidayatullah dapat mewujudkan cita-cita besarnya, yaitu tegaknya peradaban Islam," jelas Ketua DPW Hidayatullah SulSel tersebut.
Pilihan ini, tambah Ustadz Mardha, akan menjadi alat ukur keberadaan dan kiprah Hidayatullah di setiap tempat.
"Artinya, ketika jajaran Hidayatullah merasakan terjadinya stagnasi, maka dapat dipastikan bahwa tarbiyah dan dakwah di tempat tersebut tidak berjalan maksimal," pungkasnya.
Sayangnya, menurut Ustadz Imran Djufri, realitas yang mengemuka hari ini, justru gerakan dakwah dan tarbiyah Hidayatullah cenderung stabil. Sebabnya, lanjut dia, jajaran struktur dan jaringan dakwah kurang kompetitif.
"Akibatnya secara internal berjalan alamiyah dan ekspansi jaringan terjadi sangat lamban," jelas Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Barat tersebut.
Keadaan ini, menurut analisa Ustadz Nasri Bohari, terjadi karena kurangnya tenaga kader yang bisa melakukan tarbiyah. Sekaligus juga, tambah dia, lambatnya rekrutmen dai untuk pengembangan jaringan.
"Solusinya, diperlukan lembaga khusus untuk mencetak murabbi dan da’i yang siap mengemban amanah tersebut," jelas Ketua DPW Hidayatullah Sulawesi Tenggara tersebut.
Dari pertemuan tersebut, lahirlah sebuah gagasan mendirikan Sekolah Dai Hidayatullah.
Ditambahkan ustsdz Sumariadi, program ini adalah juga merespon arahan dan instruksi DPP untuk memenuhi permintaan da’i yang sangat besar dari Kawasan Timur Indonesia (KTI).
Diketahui, program yang sama telah hadir untuk bagian barat Indonesia, tepatnya di Bogor, Jawa Barat sekitar 4 tahun yang lalu dan sedang berjalan untuk angkatan ke-V tahun ini.
Penyelenggaraan program pendidikan da’i untuk KTI ini insya Allah akan dibuka untuk angkatan pertama pada akhir tahun 2019 di Kampus Hidayatullah Parepare. Penunjukan Parepare sebagai tempat adalah karena dianggap lebih strategis (paling terjangkau) dari KTI, juga didukung SDM dan fasilitas yang lebih layak.
*Abdul Aziz
*Abdul Aziz




