Semarak I’tikaf 1440 H, Hidayatullah Makassar Gelar Diskusi Manhaj

Main Posts Background Image

Main Posts Background Image

Kamis, 30 Mei 2019

Semarak I’tikaf 1440 H, Hidayatullah Makassar Gelar Diskusi Manhaj


MAKASSAR - Jikalau ada orang yang mengaku beriman dan saat membaca firman Tuhan dan atau hadits Nabi tidak mendapat getaran iman dan spirit dalam ayat dan hadist tersebut, hati –hati jangan sampai iman itu palsu, iman dengan kualitas ecek-ecek. Padahal  pimpinan memberi pesan bahwa kualitas iman kita ini harus diatas rata-rata harus berkualitas.

Demikian pesan yang disampaikan oleh Ustad Sholeh Usman, Ketua Departemen Perkaderan Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah, yang berlangsung di Masjid Umar Al-Faruq  Kampus Utama Hidayatullah Makassar, 24 Ramadan 1440 H, Rabu (29/05/2019).

Menurut Shaleh Usman, disinilah perlunya kita menata frekuensi iman kita sebagaimana frekuensi iman dari para pejuang pendahulu dari golongan para sahabat Nabi. Sebab kalau frekuensi ini tidak sama, jangankan teguran, nasehat sekalipun akan lewat begitu saja.

Lanjut ia mengatakan,yang bisa memenangkan pertarungan ini adalah mereka yang punya frekuensi iman sebagaimana frekuensi iman dari pada para sahabat itu tadi, kalau tidak bisa patah-patah akan keteteran.

‘’Disinilah bedanya, beda kualitas. Sama-sama kita shalat lail, sama-sama kita baca quran, sama-sama kita wirid, sama-sama kita berdzikir tapi tidak sama semua kualitasnya. Sebab, Nabi dan para sahabat shalat lail, kita juga shalat lail. Nabi dan para sahabat baca quran, kita juga baca quran tapi apakah kualitasnya sama?,’’ucapnya.

Padahal ceritanya pekerjaan kita sama, Lanjut Shaleh Usman, apa yang Nabi dan para sahabat perjuangkan itu juga ceritanya yang kita mau perjuangkan. Apa yang Nabi dan para sahabat pertaruhkan itu juga ceritanya yang kita mau pertaruhkan.

‘’Lalu kalau ternyata kualitas shalat lail, baca quran, wirid dan dzikir kita tidak dapat mencapai atau setidaknya mendekati kualitas shalat lail, baca quran, wirid dan dzikirnya para sahabat Nabi, lalu apa ‘modal’ kita sehingga kok percaya diri betul mau coba-coba ambil pekerjaannya Nabi dan para sahabat. Istilahnya Allahuyarham Ustadz Abdullah Said; "tau diri nyong..!" tuturnya.

Dijelaskan dia, maka inilah sesungguhnya munajat yang paling prioritas yang seharusnya kita terapkan kepada Allah di Ramadhan ini. Inilah munajat yang paling penting yang semestinya kita minta kepada Allah di Ramadhan ini. Inilah munajat yang paling penting yang seyogyanya kita tangisi kepada Allah di Ramadhan ini.

‘’Mohon maaf, tanpa menafikan ratapan dan munajat kita kepada Allah tentang pembebasan lahan, perolehan donasi, pembangunan infrastruktur, dan lain-lain,’’ Lanjut Shaleh Usman. 

Dia menegaskan, sungguh pada akhirnya tidak ada gunanya semua itu jika persoalan yang sebenarnya sangat prioritas, persoalan yang sebenarnya sangat mendasar, persoalan yang sebenarnya sangat prinsip justru menjadi munajat kita yang nomor sekian, dimana pada saat yang sama kita juga mengklaim diri sebagai pejuang.

‘’Inilah yang kita harapkan dari Ramadhan ini. Kita berharap Ramadhan kita kali ini dapat menghasilkan lompatan-lompatan frekuensi iman dan spirit dari diri kita. Sehingga apapun yang kita cerita dari urusan agama ini semuanya menjadi menarik, apa lagi kalau kita sudahcerita soal memperjuangkan Islam ini,’’ ucap Sholeh Usman.

Lompatan frekuensi, lanjutnya, iman itu kemudian teraktualisasi di lapangan, terlihat dalam lompatan kerja sesuai dengan amanahnya masing-masing. 

‘’Kalau ada perintah, kalau ada komando langsung melompat merespon, dalam keadaan ringan maupun berat. Bukan sebaliknya, ya melompat juga, tapi melompat dalam rangka menangkis agar terbebas dari perintah, terbebas dari komando,’’katanya.

Puncak pengorbanan orang yang punya iman adalah mengerahkan seluruh potensi, daya dan upaya, siap menerima segala macam bentuk resiko demi memperjuangkan tegaknya agama islam ini.

Dia meyebutkan, bahwa agar iman ini meningkat maka harus diperhadapkan dengan tantangan, rintangan dan ujian. Seperti apa yang Allah kisahkan dalam surah Al-Ahzab ayat 22 Allah berfirman yang artinya:

‘’Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: "Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita". Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan’’.

‘’Hari ini, orang bergabung ke Hidayatullah ini sudah dengan banyak cara. Hidayatullah sekarang ini sudah banyak 'kembang-kembangnya', segala macam bentuknya. Ada kembang berupa BMH, ada kembang berupa lembaga pendidikan, ya tak terkecuali di Hidayatullah Makassar ini,’’ ujarnya.

Menurutnya, Sungguh jauh berbeda perjalanan para pendahulu dan para perintis lembaga ini. Pada zaman Ustad Abdul Majid, apa yang menarik dari pondok di Makassar ini? Tidak ada, jika kalau tidak mau dibilang memprihatinkan.

‘’Namun disinilah letak perbedaannya, kualitas keberimanan para pendahulu kita teruji justru dengan beratnya tantangan dan sulitnya rintangan. Mereka bukan tidak punya pilihan saat itu sehingga harus rela hidup 'bermiskin-miskin' mengurusi anak-anaknya. Mereka bukan dari orang golongan tidak mampu sehingga harus memilih hidup serba terbatas dan kekurangan.’’kata dia.

Untuk itu, lanjut Sholeh Usman, Lalu apa yang membuat mereka menjatuhkan pilihan pada pilihan yang justru banyak dihindari oleh kebanyakan orang? Adalah karena menjadikan tantangan dan rintangan dalam perjalanan keberimanannya sebagai sarana untuk membuktikan janji Allah dan Rasul-Nya.

Sholeh Usman menambahkan, sarana untuk membenarkan janji Allah dan Rasul-Nya, sebagai sarana untuk merasakan janji Allah dan Rasul-Nya. Dan setelah janji itu terbukti, setelah janji itu dirasakan maka Allah semakin tambahkan kekuatan imannya.

‘’Maka pekerjaan selanjutnya adalah rekayasa apa yang semestinya kita persiapkan untuk para kader dan anggota kita saat ini. Saat dimana arus amal usaha begitu kencang lewat 'kembang-kembang' tadi itu. Kita membutuhkan semacam perangkat yang bisa mengupdate iman secara otomatis,’’ pungkasnya.

Error 404

The page you were looking for, could not be found. You may have typed the address incorrectly or you may have used an outdated link.

Go to Homepage