Kisah Haru, Santri Hidayatullah Towuti yang Meninggal Dunia

Main Posts Background Image

Main Posts Background Image

Rabu, 22 Mei 2019

Kisah Haru, Santri Hidayatullah Towuti yang Meninggal Dunia



Sahlan yang merupakan anak yatim yang duduk dikelas 2 SMP Integral Hidayatullah Towuti yang baru 11 bulan begabung di pesantren Hidayatullah. Semangat belajar di pesantren tumbuh ketika melihat beberapa kakak kelasnya yang terlebih dahulu menjadi santri Hidayatullah bisa berceramah di masjid-masjid. 

Rasa cemburu itu pun membuatnya untuk memutuskan ingin belajar di pesantren juga. Dengan tekad yang kuat dan dukungan keluarga Sahlan akhirnya menjadi santri Hidayatullah Towuti. Ujian berat pun dialaminya dipekan pertama, bagaimana tidak setelah berlalu  sepekan berada di pondok, keluarga Sahlan menelpon dan mengabari kalau Sahlan harus pulang bapaknya telah dipanggil oleh Allah.

Sempat keraguan muncul dari beberapa Ustad apakah sahlan masih tetap akan kembali ke pesantren atau cukup menyerah sampai disini..? Akhirnya pertanyaan ini terjawab setelah berlalu 10 hari akhirnya Sahlan kembali muncul dengan senyuman khas nya yang selalu tersenyum. 

Sahlan dimata para teman-temannya.

"Sahlan itu orangnya baik ust, saya sering bercanda dengannya saya emosi dan memukulnya tapi dia tidak membalas dan hanya tersenyum," tutur ananda Fakhrul disertai tetesan air mata.

"Malam Ahad main futsal bersama, dan masih tetap dengan gaya khasnya dengan senyuman manisnya ketika salah menendang bola dan membawa bola begitupun ketika dikalahkan," kenang Sukri sambil menundukkan kepala.

"Subuh Ahad ketika kita sholat lail pukul 02.30-03.45 dilihat santri Sahlan kelihatannya begitu khusyuk dan tidak meninggalkan tempat sholatnya pas sebelah kanan imam didepan mimbar masjid," ujar Asdi dengan suara terbata-bata.

Bukan hanya keluarga  yang berduka akan kehilangan Sahlan tapi juga dirasakan para sahabat dan saudara seperjuangan di pesantren. Betapa tidak Sahlan begitu ramah dan dikenal anak yang suka berbagi sekalipun dia anak yatim dan kampung halamannua begitu  jauh dari pesantren. Sebuah kesaksian dari Andika rekannya bahwa ketika sahur di Ahad subuh , Sahlan memanggil rekan rekannya untuk makan bersama disatu piring. kesehariannya di pondok tidak pernah berkeluh kesah dan taat serta terhadap para gurunya.

Sahlan dimata para guru-gurunya

"Kehilangan lagi santri satu santri yang baik dan taat disuruh,"  kenang sang ust. Yudi.

"Senyumanya itu anak, selalu dikenang" kata Najamuddin ketua DPD Hidayatullah Luwu Timur.

"Saya menoleh kekanan salam waktu sholat lail sahlan ini masih ada disamping saya, sahlan kami sudah anggap kayak anak kami sendiri di pesantren" ujar ketua Yayasan Hidayatullah Towuti.

Sahlan begitu mudah untuk mendengarkan dan mentaati para gurunya, seakan tak ada susah jika gurunya yang menyuruh, pasti disertai dengan senyuman khasnya sambil berkata iye' ust. Sahlan tak pernah merepotkan para teman teman dan gurunya,  tergolong anak yang baik serta amanah dan  tanggungjawab terhadap tugas yang diberikan kepadanya.

Sahlan orang baik dimata orang orang orang terdekatnya, Karena amanah dan tanggungjawab terhadap tugas yang diberikan selama ini maka menjelang ramadhan di putuskan memilih Sahlan menjadi anak pilihan yang bergabung di pelayanan ummat Laznas BMH Luwu Timur.

Allah Lebih sayang Kepada Sahlan

Malam ahad merupakan malam terakhir beliau didunia,  merupakan Janji Allah kepada kalau setiap yang bernyawa pasti akan kembali kepada-Nya, tak bisa di prediksi kapan kematian itu akan menjemput kita semua.

Sahlan malam ahad masih bersama guru dan rekannya olahraga setelah itu istirahat dan dilanjutkan sholat lail, sahur, sholat subuh, tadarrus serta sholat dhuha masih di sekitar teman dan gurunya. Tidak ada yang bisa lolos dan bersembunyi dari kematian, orang kaya sekalipun tak akan mampu membendungnya bahkan berlari dari kematian.

Begitulah yang dialami Sahlan tak bisa lari dari kematian, Allah begitu  sayang kepadanya sehingga meninggal dalam keadaan berpuasa, dalam keadaan menuntut Ilmu, dan dalam melaksanakan amanah dan tanggung jawab, Allah begitu sayang dengan senyuman khas nya.


Perjalanan mengantar jenazah kedesa Kanandede Kec.Rongkong

Keluarga Ikhlas dan segera menghubungi agar sekiranya jenazah bisa diantar ke tanah kelahiran sahlan. Karena merupakan amanah dari keluarga maka segera menghubugi ambulance Mobil Jenazah yang berada di Wasuponda. Alamdulillah melalui bantuan pemerintah setempat, bisa tersambung dan siap mengantarkan jenazah sahlan.

Pengumuman dari masjid umar bin Abdul Aziz terdengar pukul 13. 20, Jenazah akan diantar ke pondok untuk kemudian di mandikan, dikafani dan disholatkan dan selanjutnya di berangkatkan ke keluarga tanah kelahiran Sahlan.

Suara tangis dan sedih pun kembali memuncak ketika jenazah tiba di lokasi masjid Umar bin Abdul Aziz pondok pesantren Hidayatullah Towuti. Perjalanan dari wawondula ke kanandede membutuhkan waktu 5 jam 30 menit untuk bisa sampai rumah duka, iringan 4 mobil pun bergerak hingga akhirnya sampai di rumah duka.


Tangisan dirumah duka

Mobil Jenazah tiba di Kanandede suara teriakan nama sahlan begitu terdengar sepanjang jalan terlebih di pelataran serta rumah duka, suara haru makin memuncak membuat kami yang memgantar  tak bisa memgeluarkan kata kata , dan sejenak terdiam serasa tak kuat untuk melangkah, sang paman pun memghampiri dan memeluk kami. "inilah takdir kemanakan kami ust".

Sang Ibu begitu histeris melihat anak kebanggaannya pulang ke rumah dengan mobil jenazah dan terbungkus kain kafan. Ibu yang mempunyai harapan akan masa depan anaknya nanti suatu saat menjadi anak yang memiliki banyak manfaat terhadap masyarakat sekitarnya. Tak bisa di bendung keluarga dan sahabat terus berupaya untuk menenangkan tapi tak mampu bahkan malah ikut terbawa suasana haru atas apa yang di alami sang Ibu.

Setelah  berlalu beberapa menit ustad Jabbar mencoba menenangkan dengan menceritakan kebaikan yang di lakukan Sahlan sebelum menghadap kepada Allah. Mendengar cerita tersebut suasna akhirnya berubah kebahagian di beberapa keluarga.

Selamat Jalan  ananda Sahlan kami saksikan engkau anak yang amanah, jujur, baik, pemurah, sholeh. Selamat  Jalan Ananda Sahlan  kami merindukan senyuman khas darimu. Selamat Jalan ananda Sahlan engkau syahid sementara berpuasa. Selamat Jalan ananda Sahlan jika kelak bertemu Rabb dan tidak menjumpai diriku dalam surga maka carilah kami. Selamat Jalan ananda Sahlan kami menyaksikan kebaikan kebaikanmu.

Error 404

The page you were looking for, could not be found. You may have typed the address incorrectly or you may have used an outdated link.

Go to Homepage