Sahlan yang merupakan anak yatim yang duduk dikelas 2 SMP Integral Hidayatullah Towuti yang baru 11 bulan begabung di pesantren Hidayatullah. Semangat belajar di pesantren tumbuh ketika melihat beberapa kakak kelasnya yang terlebih dahulu menjadi santri Hidayatullah bisa berceramah di masjid-masjid.
Rasa cemburu itu pun membuatnya untuk memutuskan
ingin belajar di pesantren juga. Dengan tekad yang kuat dan dukungan keluarga Sahlan akhirnya menjadi santri
Hidayatullah Towuti. Ujian berat pun dialaminya dipekan pertama, bagaimana
tidak setelah berlalu sepekan berada di pondok, keluarga Sahlan menelpon
dan mengabari kalau Sahlan harus pulang bapaknya telah dipanggil oleh Allah.
Sempat keraguan muncul dari beberapa Ustad apakah
sahlan masih tetap akan kembali ke pesantren atau cukup menyerah sampai
disini..? Akhirnya pertanyaan ini terjawab setelah berlalu 10 hari akhirnya Sahlan
kembali muncul dengan senyuman khas nya yang selalu tersenyum.
Sahlan dimata para teman-temannya.
"Sahlan itu orangnya baik ust, saya sering bercanda dengannya saya emosi
dan memukulnya tapi dia tidak membalas dan hanya tersenyum," tutur ananda
Fakhrul disertai tetesan air mata.
"Malam Ahad main futsal bersama, dan masih
tetap dengan gaya khasnya dengan senyuman manisnya ketika salah menendang bola
dan membawa bola begitupun ketika dikalahkan," kenang Sukri sambil
menundukkan kepala.
"Subuh Ahad ketika kita sholat lail pukul
02.30-03.45 dilihat santri Sahlan kelihatannya begitu khusyuk dan tidak
meninggalkan tempat sholatnya pas sebelah kanan imam didepan mimbar masjid,"
ujar Asdi dengan suara terbata-bata.
Bukan hanya keluarga yang berduka akan
kehilangan Sahlan tapi juga dirasakan para sahabat dan saudara seperjuangan di
pesantren. Betapa tidak Sahlan begitu ramah dan dikenal anak yang suka berbagi
sekalipun dia anak yatim dan kampung halamannua begitu jauh dari pesantren. Sebuah kesaksian dari Andika rekannya bahwa
ketika sahur di Ahad subuh , Sahlan memanggil rekan rekannya untuk makan bersama
disatu piring. kesehariannya di pondok tidak pernah berkeluh kesah dan taat serta terhadap
para gurunya.
Sahlan dimata para guru-gurunya
"Kehilangan lagi santri satu santri yang baik dan taat disuruh," kenang sang ust. Yudi.
"Senyumanya itu anak, selalu dikenang"
kata Najamuddin ketua DPD Hidayatullah Luwu Timur.
"Saya menoleh kekanan salam waktu sholat
lail sahlan ini masih ada disamping saya, sahlan kami sudah anggap kayak anak
kami sendiri di pesantren" ujar ketua Yayasan Hidayatullah Towuti.
Sahlan begitu mudah untuk mendengarkan dan mentaati
para gurunya, seakan tak ada susah jika gurunya yang menyuruh, pasti disertai
dengan senyuman khasnya sambil berkata iye' ust. Sahlan tak pernah merepotkan
para teman teman dan gurunya, tergolong anak yang baik serta amanah
dan tanggungjawab terhadap tugas yang diberikan kepadanya.
Sahlan orang baik dimata orang orang orang
terdekatnya, Karena amanah dan tanggungjawab terhadap tugas yang diberikan
selama ini maka menjelang ramadhan di putuskan memilih Sahlan menjadi anak
pilihan yang bergabung di pelayanan ummat Laznas BMH Luwu Timur.
Allah Lebih sayang Kepada Sahlan
Malam ahad merupakan malam terakhir beliau
didunia, merupakan Janji Allah kepada kalau setiap yang bernyawa pasti
akan kembali kepada-Nya, tak bisa di prediksi kapan kematian itu akan menjemput
kita semua.
Sahlan malam ahad masih bersama guru dan rekannya
olahraga setelah itu istirahat dan dilanjutkan sholat lail, sahur, sholat
subuh, tadarrus serta sholat dhuha masih di sekitar teman dan gurunya. Tidak
ada yang bisa lolos dan bersembunyi dari kematian, orang kaya sekalipun tak
akan mampu membendungnya bahkan berlari dari kematian.
Begitulah yang dialami Sahlan tak bisa lari dari
kematian, Allah begitu sayang kepadanya sehingga meninggal dalam keadaan
berpuasa, dalam keadaan menuntut Ilmu, dan dalam melaksanakan amanah dan
tanggung jawab, Allah begitu sayang dengan senyuman khas nya.
Perjalanan mengantar jenazah kedesa Kanandede Kec.Rongkong
Keluarga Ikhlas dan segera menghubungi agar
sekiranya jenazah bisa diantar ke tanah kelahiran sahlan. Karena merupakan
amanah dari keluarga maka segera menghubugi ambulance Mobil Jenazah yang berada
di Wasuponda. Alamdulillah melalui bantuan pemerintah setempat, bisa tersambung
dan siap mengantarkan jenazah sahlan.
Pengumuman dari masjid umar bin Abdul Aziz
terdengar pukul 13. 20, Jenazah akan diantar ke pondok untuk kemudian di
mandikan, dikafani dan disholatkan dan selanjutnya di berangkatkan ke keluarga
tanah kelahiran Sahlan.
Suara tangis
dan sedih pun kembali memuncak ketika jenazah tiba di lokasi masjid Umar bin
Abdul Aziz pondok pesantren Hidayatullah Towuti. Perjalanan dari wawondula ke
kanandede membutuhkan waktu 5 jam 30 menit untuk bisa sampai rumah duka,
iringan 4 mobil pun bergerak hingga akhirnya sampai di rumah duka.
Tangisan dirumah duka
Mobil Jenazah tiba di Kanandede suara teriakan
nama sahlan begitu terdengar sepanjang jalan terlebih di pelataran serta rumah
duka, suara haru makin memuncak membuat kami yang memgantar tak bisa
memgeluarkan kata kata , dan sejenak terdiam serasa tak kuat untuk melangkah,
sang paman pun memghampiri dan memeluk kami. "inilah takdir kemanakan kami
ust".
Sang Ibu begitu histeris melihat anak
kebanggaannya pulang ke rumah dengan mobil jenazah dan terbungkus kain kafan.
Ibu yang mempunyai harapan akan masa depan anaknya nanti suatu saat menjadi
anak yang memiliki banyak manfaat terhadap masyarakat sekitarnya. Tak bisa di
bendung keluarga dan sahabat terus berupaya untuk menenangkan tapi tak mampu
bahkan malah ikut terbawa suasana haru atas apa yang di alami sang Ibu.
Setelah berlalu beberapa menit ustad Jabbar mencoba menenangkan dengan menceritakan kebaikan yang di lakukan Sahlan sebelum menghadap kepada Allah. Mendengar cerita tersebut suasna akhirnya berubah kebahagian di beberapa keluarga.
Selamat Jalan ananda Sahlan kami saksikan engkau anak yang amanah, jujur, baik, pemurah, sholeh. Selamat Jalan Ananda Sahlan kami merindukan senyuman khas darimu. Selamat Jalan ananda Sahlan engkau syahid sementara berpuasa. Selamat Jalan ananda Sahlan jika kelak bertemu Rabb dan tidak menjumpai diriku dalam surga maka carilah kami. Selamat Jalan ananda Sahlan kami menyaksikan kebaikan kebaikanmu.

