Sukses Suksesi Regenerasi Al Bayan

Main Posts Background Image

Main Posts Background Image

Sabtu, 11 Januari 2020

Sukses Suksesi Regenerasi Al Bayan


Sukses Suksesi 
Regenerasi Al Bayan

Jika ada organisasi yg mau belajar tentang kepemimpinan,  silahkan datang ke Al Bayan,  Hidayatullah Makassar. Lima kali pergantian ketua Yayasan, suksesi kepemimpinannya semua berjalan sukses tanpa riak,  reaksi,  aksi protes, apalagi demonstrasi.

Awal berdiri, 1990 an, Al Bayan dirintis oleh tokoh HMI yang punya idealisme kepemimpinan. Mereka adalah Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar,  Khairil Baits,  Ahkam Sumadiana,  Abdul Majid,  Tasmin Latif, dan lain lainnya.  Mereka sepakat untuk mengangkat  Ustad Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar sebagai Ketua atau Pimpinan kala itu. 

Kepemimpinan  tanpa demokrasi,  beliau dipilih oleh mereka,  agar ada pemimpin dan ada yang dipimpin. Ada pengatur dan ada yang diatur.   Kepemimpinan itu semua dimulai dari sini, mereka memilih secara mufakat,  aklamasi,  seperti halnya memilih imam dalam sholat.

Tahun 1999, Ustad Abdul Aziz QM mendapat amanah di Hidayatullah Jakarta,  kepemimpinan beralih ke Ustad Kharil Baits (2001).  Setelah itu, juga dengan santainya,  kepemimpinan di Al Bayan beralih ke Ustad Abdul Majid hingga tahun 2005.

Dari Ustad Majid,  kepemimpinan Al Bayan dilanjutkan ke Ustad Muhsinin almarhum hingga tahun 2007.

Dari almarhum Ustad Muhsinin,  estafeta kepemimpinan di Al Bayan dilanjutkan oleh generasi kedua yaitu Ustad Sultan hingga 2013, kemudian , saya pun, Sarmadani Karani ikut diberi amanah sebagai ketua yayasan di Al Bayan hingga 2019. 

Peralihan dari Pak Sultan ke Sarmadani,  juga sangat dinamis dan lancar. Waktu itu (2013), tanpa jelas pertimbangan apa,  saya tiba-tiba saja   diputuskan untuk menjadi ketua,  dan Pak Sultan yg selama ini sekian lama menjadi ketua,  ikhlas diposisi wakil ketua.  Sebuah srtuktur yang tidak lazim. 

Eksrtimnya lagi,  waktu itu Al Bayan mengakuisisi Ummul Quro,  Pondok Tahfidz Quran Hidayatullah di Pucak Maros,  menjadi satu kesatuan dengan yayasan Al Bayan. 

Saat ini,  di era 4.0 atau bahkan five point zero,   atau Ustad Aziz Qahhar mengistilahkan era disrupsi,  dimana era digitalisasi dan tehnologi yg semakin canggih,  pembina yayasan,  yang jika disebuah perusahaan dianggap sebagai komisaris,  mengangkat Ketua Yayasan baru,  Suwito Fatah di akhir 2019. 

"Ketua baru ini masih generasi millenial" ungkap Abdul Aziz Qahhar,  saat menutup Raker Yayasan Al Bayan,  akhir Desember lalu.  Agar Yayasan Al Bayan,  bisa melaju 120 km per jam. 

Bagi sebuah yayasan,  organisasi,  kelompok atau lembaga,  pergantian pemimpin atau ketua, kadang menimbulkan polemik, perselisihan dan perpecahan. Tapi tidak dengan Al Bayan. Al Bayan berhasil membuat sebuah sistem regenerasi kepemimpinan, sukses melakukan pergantian, dengan model syuro di tangan pembina yayasan. 

Bahkan pergantian sudah menjadi biasa,  ketua yayasana hanya sebuah amanah.  Bahwa amanah menjadi lumrah,  bahwa harus ada regenerasi kader,  dan bahwa harus ada figur dan sistem yang membentuk itu. Sehingga tidak terjadi perselisihan,  perpercahan,  dalam sebuah organisasi.  Apalagi sampai harus bagi-bagi harta lembaga. 

Inti dari semua ini,  adalah imamah jamaah, sami'tha wa'athana di Hidayatullah. Al Bayan hanya menjadi sebuah miniatur percontohan kepemimpinan,  di dalam sebuah "negara" besar bernama Hidayatullah. /sarmadani karani

Error 404

The page you were looking for, could not be found. You may have typed the address incorrectly or you may have used an outdated link.

Go to Homepage