MAKASSAR — Bebicara tentang karakteristik orang atau kelompok yang beriman. Orang
ataupun kelompok yang secara khusus Allah panggil dengan seruan yang khusus
pula ‘’yā ayyuhal-ladzīna āmanū’’ wahai orang-orang yang telah (teruji)
keimanannya.
Hal itu disampaikan saat mengisi tausiah yang berlangsung di Masjid Umar
Al-Faruq Kampus Utama Hidayatullah Makassar, 29 Ramadan 1440 H, Senin (03/06/2019).
Menurut Naspi, tentang sosok, kelompok, figur yang memiliki sifat dan
karakter dengan gambaran indah pada sikap, perilaku, dan ibadahnya. Hatinya
dengan mahabbah, perilakunya mempesona, senang saat bertemu, dan rindu saat
terpisah.
‘’Orang-orang seperti inilah yang disanjung oleh Allah dan Rasul-Nya.
Sanjungan tertinggi Allah kepada mereka adalah berupa janji Allah tentang surga
kepada mereka,’’ ujarnya.
Pun demikian sanjungan Rasululullah, lanjut Naspi, tatkala beliau bersabda ajaib urusan orang beriman itu saat dia
mendapatkan hal menyenangkan dia bersyukur dan saat sedang ditimpa hal yang tak
menyenangkan dia bersabar.
Bahkan ada saaat dimana orang beriman itu tatkala mendapatkan nikmat mereka
justru mengatakan ‘’hādzā min fadhli Rabbī li yabluwanī a asykur am akfur’'.
Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman ;
".. مَنْ يَدْعُونِي، فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ،
مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ " رواه البخاري ومسلم’’
Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan,siapa yang memohon kepadaku
niscaya Aku beri dan siapa yang memohon keampunan keada-Ku niscaya akan Aku
ampuni’’ (HR. Bukhari dan Muslim).
Satu orang beriman saja, Allah sdh menyiapkan janji yang dahsyat. Bagaimana
tidak dahsyat jika berdoa dikabulkan. Bagaimana tidak dahsyat, jika meminta
diberikan. Bagaimana tidak dahsyat, jika memohon ampun diampuni.
Lalu bagaimana jika orang beriman itu lebih dari satu, lebih dari dua, lebih
dari tiga!? Lalu bagaimana jika orang beriman itu adalah sebuah komunitas, sebuah
kelompok!?
Maka demikianlah Allah gambarkan dalam al-Quran ;
{وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ..} [الأعراف : 96]
Naspi mengatakan bahwa bapak pimpinan beberapa waktu yang lalu menyampaikan
bahwa momentun Ramadhan ini adalah waktu
terbaik bagi kita menyatukan ‘amin amin’
kita. Adalah kesempatan terbaik menyatukan doa-doa kita Adalah momen terbaik
menyatukan munajat-munajat kita.
‘’Itulah juga mengapa para santri ini dipaksa bangun, ikut qiyamullail juga.Diproses
sedemikian rupa dengan harapan agar kelak kalian menjadi orang beriman, agar
hadir orang, sosok, ataupun kelompok yang terjamin keimanannya. Nah, kalau
sudah hadir orang beriman maka ada kesempatan kita 'menjebak' Allah agar
mengabulkan doa kita, 'menjebak' Allah agar memenuhi pinta dan munjat kita,
dan 'menjebak' Allah agar mengaruniakan ampunan kepada kita.’’ kata Naspi Arsyad
Lc yang juga pernah menjabat Ketua STIS hingga periode 2009 lalu.
Ia menjelaskan, Inilah juga diantara tujuan kita berkumpul ditempat seperti
ini, berkampus. Tak lain dan tak bukan agar menyatu dan mengurucut ini doa.
Bisa dibayangkan, ada para santri yang beriman berdoa disudut kanan sana, ada
para pengasuh yang beriman yang juga berdoa disudut kiri sana, tak mau kalah,
ada pengurus bersama pembina yang beriman yang juga bermunajat panjang di depan
mihrab.
Untuk itu, lanjut Naspi, doa-doa mereka menyatu, munajat mereka mengurucut,
permohonan mereka berpadu hanya kepada
Allah yang dengan asbab jaminan keimanan mereka, sekali lagi, 'menjebak' Allah
untuk tak ada pilihan kecuali Allah kabulkan permintaan mereka, Allah penuhi
kebutuhan mereka.
Kenapa kita butuhkan doa-doa yang
mustajabah? Sebab begitu banyak urusan yang ingin kita munajatkan kepada Allah,
betapa banyak persoalan yang ingin kita keluhkan kepada Allah, betapa banyak
permintaan yang ingin kita perhadapkan kepada Allah.
‘’Maka menjadi penting bagi kita menjaga dan terus saling menguatkan
keimanan diantara kita. Semoga Ramadhan tahun ini menjadi momentum merawat iman
kita, menjadi momentum semakin menguatkan iman kita. Untuk kemudian, dengan
jaminan keimanan kita itu Allah memenuhi janji-janji-Nya,’’ tutup Naspi Alumni
Universitas Islam Madinah.

